Translate

Friday, 3 January 2014

GELOMBANG ITU TAK PERNAH BERAKHIR

Bagian.... 1

Dalam tulisan ku yang lalu Janji itu sungguh di uji 1 - 6, aku mengisahkan perjalanan hidup ku dari Jakarta hingga aku dan suami dapat tinggal menetap di Brisbane, Australia yang tidak dengan mudah kami lalui, setelah bergumul dengan penyakit Kanker suami ku, dia juga kehilangan pekerjaan dan impian kami memiliki rumah idaman pupus, namun dengan keteguhan hati, kesabaran menjalani gelombang hidup melalui kekuatan Kasih yang Tuhan berikan kepada kami akhirnya semuanya dapat terbayarkan, meskipun penyakit Kanker suami ku belum sembuh total, tapi keadaannya mulai membaik dan dia sudah mendapatkan pekerjaan kembali, walaupun hanya sebagai seorang sopir taksi serta kerinduan kami untuk memiliki rumah idaman yang pernah pupus akhirnya menjadi kenyataan.

Kami sangat bersyukur dan bersuka cita memiliki rumah yang kami impikan, rumah yang kami dapatkan dari hasil jerih payah dan cucuran air mata ini dapat memberikan tambahan untuk membantu kehidupan rumah tangga kami. kami membuat tambahan dua kamar dan kamar mandi yang kemudian disewakan kepada anak - anak indonesia yang belajar di Brisbane, mereka sudah kami anggap seperti anak sendiri, jadi kami seperti satu keluarga besar ada 4 orang anak yang tinggal bersama kami dan salah seorang dari mereka beragama islam, namun untuk kami tidak ada perbedaan juga untuk anak - anak yang lain, kami saling menghormati dan memberikan perhatian serta Kasih sehingga rasa kekeluargaan kami sangatlah erat terasa.
Ketika salah seoarang anak belum pulang dan tidak memberi kabar, maka kami semua menjadi gelisah selama mereka tinggal bersama kami sepenuhnya menjadi tanggung jawab kami, sehingga meskipun sudah larut malam suami ku akan pergi mencari kesetiap pemberhentian bus sampai mendapatkannya, Puji Tuhan akhirnya dia ditemukan dan aku memberinya nasehat agar hal ini tidak terjadi lagi karena kami kuatir dan tidak ingin dia berada dalam masalah.

Untuk menghormati salah satu anak ku yang beragama muslim, aku tidak pernah menyajikan makanan yang mengandung babi ataupun tidak halal meskipun anak - anak ku yang lain beragama katolik mereka pun dapat mengerti akan hal itu dan ketika lebaran tiba disaat dia tidak pulang kerumah orang tuanya, aku juga memasakan ketupat agar dia juga dapat merasakan lebaran seperti di rumahnya dan kita semua menikmati makan ketupat bersama setelah dia selesai sholat Ied. Kedua orang tuanyapun sering kali tinggal di rumah terkadang dua atau tiga bulan dan sudah kami anggap seperti keluarga sendiri.
Waktu terus berjalan suami ku akhirnya memutuskan untuk berhenti menjadi supir taksi, sebab pekerjaan itu memang terasa sangat berat untuknya, yang masih dalam keadaan sakit dan kankernya masih harus memerlukan radiasi treatment. Sebagai ganti untuk menambah penghasilan kami, karena cicilan rumah masih harus di bayar, maka kami memutuskan untuk memulai lagi usaha catering di rumah yang pernah sempat terputus beberapa waktu lalu. Usaha catering ini hanya kami jalankan dua kali dalam seminggu saja, Puji Tuhan pelanggan kami dari hari kehari semakin bertambah sampai akhirnya mencapai 40 orang yang terdiri baik dari para pelajar maupun keluarga indonesia bahkan ada juga keluarga - keluarga dari singapore dan Malaysia. Tak jarang saya juga menerima pesanan nasi tumpeng serta makanan lainnya seperti rissoles, combro, lemper, pempek, serta batagor.

Suami ku sangat membantu dalam usaha ini, bila aku selesai memasak dia yang bertugas menempatkannya di take away container, ketika semua sudah selesai maka kami berdua pergi mengantarkan pesanan - pesanan itu. Karena customer kami dari selatan sampai barat juga ada beberapa didaerah Brisbane city, maka sekitar jam 6 sore biasanya kami baru dapat kembali lagi kerumah. Begitulah hidup kami berlangsung dari hari kehari, dan biasanya setiap hari Sabtu kami selalu berkumpul dengan keluarga - keluarga dari lingkungan Gereja disini yang kebetulan saat itu masih sangat sedikit, namun hubungan kami satu sama lain sangat dekat dan akrab seperti satu keluarga layaknya, sehingga kami tidak merasakan kesepian atau pun homesick meskipun perjuangan hidup kami disini cukuplah keras.

Bersambung ke bagian ke..... 2....

No comments:

Post a Comment