Bagian.... 1
Dalam
tulisan ku yang lalu Janji itu sungguh di uji 1 - 6, aku mengisahkan
perjalanan hidup ku dari Jakarta hingga aku dan suami dapat tinggal
menetap di Brisbane, Australia yang tidak dengan mudah kami lalui,
setelah bergumul dengan penyakit Kanker suami ku, dia juga kehilangan
pekerjaan dan impian kami memiliki rumah idaman pupus, namun dengan
keteguhan hati, kesabaran menjalani gelombang hidup melalui kekuatan
Kasih yang Tuhan berikan kepada kami akhirnya semuanya dapat
terbayarkan, meskipun penyakit Kanker suami ku belum sembuh total, tapi
keadaannya mulai membaik dan dia sudah mendapatkan pekerjaan kembali,
walaupun hanya sebagai seorang sopir taksi serta kerinduan kami untuk
memiliki rumah idaman yang pernah pupus akhirnya menjadi kenyataan.
Kami
sangat bersyukur dan bersuka cita memiliki rumah yang kami impikan,
rumah yang kami dapatkan dari hasil jerih payah dan cucuran air mata ini
dapat memberikan tambahan untuk membantu kehidupan rumah tangga kami.
kami membuat tambahan dua kamar dan kamar mandi yang kemudian disewakan
kepada anak - anak indonesia yang belajar di Brisbane, mereka sudah
kami anggap seperti anak sendiri, jadi kami seperti satu keluarga besar
ada 4 orang anak yang tinggal bersama kami dan salah seorang dari mereka
beragama islam, namun untuk kami tidak ada perbedaan juga untuk anak -
anak yang lain, kami saling menghormati dan memberikan perhatian serta
Kasih sehingga rasa kekeluargaan kami sangatlah erat terasa.
Ketika
salah seoarang anak belum pulang dan tidak memberi kabar, maka kami
semua menjadi gelisah selama mereka tinggal bersama kami sepenuhnya
menjadi tanggung jawab kami, sehingga meskipun sudah larut malam suami
ku akan pergi mencari kesetiap pemberhentian bus sampai mendapatkannya,
Puji Tuhan akhirnya dia ditemukan dan aku memberinya nasehat agar hal
ini tidak terjadi lagi karena kami kuatir dan tidak ingin dia berada
dalam masalah.
Untuk menghormati salah satu anak ku yang beragama
muslim, aku tidak pernah menyajikan makanan yang mengandung babi
ataupun tidak halal meskipun anak - anak ku yang lain beragama katolik
mereka pun dapat mengerti akan hal itu dan ketika lebaran tiba disaat
dia tidak pulang kerumah orang tuanya, aku juga memasakan ketupat agar
dia juga dapat merasakan lebaran seperti di rumahnya dan kita semua
menikmati makan ketupat bersama setelah dia selesai sholat Ied.
Kedua orang tuanyapun sering kali tinggal di rumah terkadang dua atau
tiga bulan dan sudah kami anggap seperti keluarga sendiri.
Waktu
terus berjalan suami ku akhirnya memutuskan untuk berhenti menjadi supir
taksi, sebab pekerjaan itu memang terasa sangat berat untuknya, yang
masih dalam keadaan sakit dan kankernya masih harus memerlukan radiasi
treatment. Sebagai ganti untuk menambah penghasilan kami, karena cicilan
rumah masih harus di bayar, maka kami memutuskan untuk memulai lagi
usaha catering di rumah yang pernah sempat terputus beberapa waktu lalu.
Usaha catering ini hanya kami jalankan dua kali dalam seminggu saja,
Puji Tuhan pelanggan kami dari hari kehari semakin bertambah sampai
akhirnya mencapai 40 orang yang terdiri baik dari para pelajar maupun
keluarga indonesia bahkan ada juga keluarga - keluarga dari singapore
dan Malaysia.
Tak jarang saya juga menerima pesanan nasi tumpeng serta makanan lainnya
seperti rissoles, combro, lemper, pempek, serta batagor.
Suami ku
sangat membantu dalam usaha ini, bila aku selesai memasak dia yang
bertugas menempatkannya di take away container, ketika semua sudah
selesai maka kami berdua pergi mengantarkan pesanan - pesanan itu.
Karena customer kami dari selatan sampai barat juga ada beberapa
didaerah Brisbane city, maka sekitar jam 6 sore biasanya kami baru dapat
kembali lagi kerumah. Begitulah hidup kami berlangsung dari hari
kehari, dan biasanya setiap hari Sabtu kami selalu berkumpul dengan
keluarga - keluarga dari lingkungan Gereja disini yang kebetulan saat
itu masih sangat sedikit, namun hubungan kami satu sama lain sangat
dekat dan akrab seperti satu keluarga layaknya, sehingga kami tidak
merasakan kesepian atau pun homesick meskipun perjuangan hidup kami
disini cukuplah keras.
Bersambung ke bagian ke..... 2....
No comments:
Post a Comment