Translate

Friday, 17 January 2014

GELOMBANG ITU TAK PERNAH BERAKHIR ( Bagian ke 4 )

Bagian ..ke 4...

Disaat aku dalam keadaan bingung untuk mencari pekerjaan baru, tiba - tiba aku di hubungi oleh seorang Ibu bernama Donna, dari rumah sakit tempat ku pernah bekerja sebelumnya, dia manager yang baru kembali dari cuti panjangnya. Dia meminta aku untuk datang bekerja sesuai dengan waktu yang telah di tentukan, karena saat pertama kali kembali bekerja aku bertugas siang hari maka tidak sempat bertemu dengannya. Kami hanya sempat berkomunikasi melalui telephone saja. Baru ketika aku bekerja di hari selanjutnya aku bertemu dengan dia, Ibu Donna sempat bertanya apakah aku pernah bekerja disana sebelumnya?. Pernah jawab ku, tetapi saat itu tidak mendapat jam lagi karena masalah yang terjadi dengan supervisor saya. Oooh, itu kamu tanyanya?, Saya sudah mendengar kabar ini katanya, Kemudian dia menawarkan aku pekerjaan part time enam jam sehari dari Senin sampai dengan Jum'at, dia juga menunjukan kepada kuruang dimana saya akan bekerja dan makanan apa yang harus saya buat, bila saya suka dia meminta saya untuk mulai datang bekerja keesokan harinya.
Kaget bercampur senang saat itu karena mendapatkan tawaran yang tidak di sangka - sangka. Memang tidak langsung mengiakan tawarannya karena aku meminta waktu untuk mendiskusikan hal ini dengan salah seorang manager yang pernah menginterview ku saat melamar pertama kali.  ketika bertemu dengannya di siang hari dia katakan ambil itu tawaran yang baik. Keesokan harinya aku datang di pagi hari dan mulai untuk bekerja.
keadaan ekonomi kami dapat dikatakan pas - pasan saat itu, karena hanya saya yang bekerja sedangkan suami ku sudah menjalankan cuci darah di rumah seminggu tiga kali selama enam jam sehari sehingga dia tidak mungkin lagi untuk bekerja. Semua anak kost yang lalu tinggal bersama kami yang dapat membantu untuk tambahan penghasilan uang harian , saat itu semua sudah selesai study, karena aku bekerja senin sampai jum'at dan harus mengurus suami di rumah maka kami memutuskan untuk tidak menerima anak kost lagi.

Menjalani cuci darah di rumah cukup membuat suami saya stress, karena dia memiliki needle phobia
( ketakutan akan jarum suntik ) selain itu dia juga harus mengurus dan mensterilkan semua mesin dan alat yang harus di pakai . Saat menjalani cuci darah sering kali dia mendapat masalah karena phobianya itu, seperti kesulitan untuk memasukkan jarum cuci darah, yaitu dua jarum satu untuk darah keluar yang kotor dan satu jarum untuk darah masuk yang sudah bersih. Sehingga mengakibatkan tangan yang membengkak dan membiru, atau terkadang lupa menutup klep dari selang cuci darah yang mengakibatkan darahnya menyembur dari selang. Untuk menenangkan dan memberi rasa nyaman kepada suami , setiap kali dia akan menjalani cuci darah aku akan selalu menemani dia hanya dengan diam memperhatikan apa yang di lakukannya dan membantu bila dia memerlukan bantuan. Setelah semua proses selesai baru aku dapat melakukan tugas rumah tangga dan menikmati makan malam sendiri, karena suami  menjalani cuci darah sepanjang malam sampai pagi selama 8 jam.

Hal ini berlangsung kurang lebih selama satu tahun, karena tidak merasa nyaman melakukan cuci darah di rumah sebab sering bermasalah, akhirnya suami ku mengajukan untuk menjalani cuci darah di rumah sakit yang kebetulan saat itu baru membuka ruangan bagi orang - orang yang tidak dapat menjalani cuci darah di rumah. Puji Tuhan suami ku mendapat tempat disana. Dia sangat senang sekali, begitu juga dengan aku karena kita dapat menikmati makan malam berdua kembali dan dapat relax di rumah, sebab suami ku menjalani cuci darah hanya 6 jam sehari , tiga hari dalam seminggu selasa dan kamis di saat aku bekerja dan Sabtu .
Bersambung ke..5...

No comments:

Post a Comment