Suami ku menjalani cuci darah dengan penuh suka cita, dia tidak pernah mengeluh dengan keadannya. Di rumah sakit dalam satu ruangan cuci darah itu ada lima orang pasien lainnya, mereka sering bertukar cerita, dan bila ada yang berulang tahun para Suster disana akan menghiasi tempat tidur mereka dengan balon dan happy birthday Banner juga menyanyikan lagu happy birthday serta menikmati Kue bersama. Mereka di buat senyaman mungkin untuk berada disana dengan penuh kasih kesabaran para suster merawat para pasien ini. Tempat cuci darah itu juga sudah seperti rumah kedua saya, setiap hari sabtu karena tidak bekerja saya pasti akan berada disana ketika mengantar dan menjemput suami, sehingga saya mengenal hampir setiap perawat dan pasien , tak jarang juga kami menikmati makan bersama, dengan share food, yang membuat begitu terasanya suasana kekeluargaan disana.
Melalui pasien lain yang pernah menerima donor Ginjal tetapi gagal suami ku mendapat kesan bahwa lebih baik menjalani cuci darah saja dari pada mendapat donor, karena akan ada resiko penolakan dari tubuh untuk ginjal yang baru itu serta ada kemungkinan Ginjal tidak dapat bekerja dengan baik.
Bila ginjal tidak bekerja maka akan di lakukan operasi ulang untuk mengangkatnya, serta agar tubuh tidak menolak Ginjal yang baru pasien harus memakan obat penolakan seumur hidupnya. Dengan mengkonsumsi obat - obat ini pasien akan mendapat effek samping, diantaranya kencing manis, darah tinggi, moon face, tulang menjadi rapuh .
Mendengar hal ini membuat suami ku menjadi takut, meski saat itu dia sudah masuk didalam daftar tunggu untuk mendapat donor ginjal. Dia katakan kepada ku, Susan aku sudah menerima keadaan ku saat ini meskipun aku harus menjalani cuci darah seumur hidup, aku sudah pasrah kepada Tuhan dan bahagia melakukannya. Hanya satu permintaan ku bila Tuhan ijinkan katanya, agar aku dapat menikmati waktu bersama - sama dengan dengan kamu setiap hari Sabtu, karena saat itu dia harus menjalani cuci darah sehingga kita tidak dapat menikmati waktu bersama untuk santai di rumah atau berjalan - jalan, sungguh terharu aku mendengar apa yang di katakannya.
Hampir tiga setengah tahun aku memohon dalam doa kepada Tuhan agar suami ku boleh mendapatkan donor ginjal sehingga dia dapat hidup normal lagi, mendengar apa yang di ucapkannya doa ku kepada Tuhan pun berubah total dan berpasrah akan keadaan suami saya seperti apa yang diinginkannya untuk tetap menjalankan cuci darah saja. keinginan suami saya untuk berpindah hari cuci darah dari hari sabtu, kedalam hari kerja itu tidaklah mudah , karena setiap mesin sudah terisi dengan pasien yang terdaftar untuk menjalaninya, dari senin sampai sabtu. Hal itu mungkin terjadi bila ada salah seorang dari mereka yang menjalani cuci darah pada hari Senin, rabu dan jum'at itu mendapat donor ginjal. Dengan tidak berkecil hati, suami ku tetap mencoba mendaftarkan diri untuk itu, sungguh luar biasa beberapa waktu kemudian suami ku mendapat kabar bahwa dia dapat mulai menjalankan cuci darah Senin, Rabu dan Jum'at karena salah satu pasien telah mendapat donor ginjal.
Kami berdua sangat bersuka cita mendengar hal ini, selama hampir tiga setengah tahun kami tidak pernah menikmati waktu untuk bersantai bersama pada hari sabtu, akhirnya apa yang suami dan aku harapkan telah Tuhan jawab. Suami ku katakan tiada hal yang lebih membahagiakan ku selain dapat meluangkan waktu berdua bersama kamu.
Bersambung ke ..6...
Semoga Tuhan Memberkati!!!
ReplyDelete