Bagian ke..8
Dalam masa training tiga bulan ini kami di kejutkan dengan meninggalnya
salah seorang teman yang hanya berbeda satu hari mendapat donor ginjal
dari suami ku , karena jahitan operasinya yang tidak kunjung mengering
dan kekebalan tubuhnya yang menurun sehingga dia terkena infeksi paru -
paru.
Hal ini sempat membuat shock suami ku dan teman - teman yang lainnya.
Bersama berjalannya waktu suami ku mulai menampakkan perubahan -
perubahan terutama dalam hal makanan, dia yang dulunya orang indonesia
sekali, kalau belum makan nasi artinya belum makan saat itu tidak suka
nasi sama sekali, dia lebih suka makanan western, seperti pasta,
sandwich, stew yang mengandung cream atau cheese. Aneh juga melihat
perubahan ini, dan aku sempat di warnai pertanyaan bagaimana organ yang
kecil itu dapat merubah selera makan dan sifat seseorang. Hal ini aku
bawa dalam diskusi dengan para pasangan yang istri atau suaminya
mendapat donor ginjal, ternyata mereka juga mengalami hal yang sama.
Ada yang tadinya tidak suka jeruk sekarang suka sekali minum juice
jeruk, ada yang tidak pernah minum beer tiba - tiba minta beer dan
lainnya.
karena belum begitu memahami sekali makanan apa yang dapat di terima
oleh tubuh suami ku , maka sempat beberapa kali dia masuk rumah sakit
yang mengakibatkan dia harus di infus dan di suntik pain killer untuk
meghilangkan rasa sakit di lambungnya. Sebelum mendapat donor suami ku
tidak pernah mempunyai masalah bila memakan tomat, buah ataupun makanan
yang sedikit mengandung rasa asam seperti salad, namun saat ini tubuh suami ku
tidak dapat menerima makanan itu. Maka saya berhati - hati sekali
membuatkan makanan untuk nya.
Dua setengah tahun berlalu, ginjal suami ku bekerja dengan baik, dia
sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan delivery spare parts
mobil, atas rekomendasi seorang teman di gereja. Dia sangat senang
sekali, setelah beberapa tahun tidak bekerja dan dapat bekerja lagi
sehingga dia dapat merasakan fungsinya kembali sebagai seorang kepala
rumah tangga.
Beberapa bulan bekerja dia mengalami kecelakaan jatuh dari truck ketika
sedang menaikkan barang, yang mengakibatkan tulang belakangnya bergeser
dan menjepit syaraf, sehingga susah untuk berjalan. Dokter mengatakan
tidak ada yang dapat mereka lakukan karena operasi hanya akan membawa resiko
bagi nya . Yang dapat di lakukan hanya physiotherapy dan acupuncture. Usaha pengobatan ini pun memakan waktu berbulan - bulan, namun suami ku tetap semangat bekerja
meskipun harus menjalaninya dalam keadaan sakit dengan terseok -
seok saat berjalan serta ringisan di wajah bila terasa sakit yang tak
tertahankan.
Hampir enam bulan baru keadaan suami menampakkan kemajuan,
sakitnya mulai berkurang dan akhirnya dia dapat berjalan dan melakukan
aktivitas dengan normal kembali tanpa rasa sakit.
Namun sekali lagi kebahagian ini tidak berlangsung lama, kesehatannya
mulai di warnai adanya keluhan pada penglihatannya, yang semakin hari
semakin memudar, aku sudah menyarankan untuk menemui dokter, tetap
dia katakan tidak apa - apa. Sampai pada satu hari ketika sedang
bekerja dia sudah tidak dapat lagi melihat nomer kendaraan yang ada di
depannya. Takut terjadi sesuatu dia lansung menghubungi dokter setelah
di lakukan pemeriksaan, dokter katakan Kamu harus ke rumah sakit
sekarang juga karena saat itu kadar gula darahnya sangat tinggi 50 ,
yang seharusnya untuk ukuran normal 4-6, suami tidak boleh menyetir lagi
dan mereka akan membawa dia dengan ambulance ke rumah sakit. Sampai di
rumah sakit suami ku langsung di beri asupan insulin melalui selang, karena tubuhnya sudah tidak
dapat menghasilkan insulin sendiri, suami ku terkena DIABETIC, kencing manis, ini adalah
effect samping dari obat anti penolakan ginjal yang harus di
konsumsinya.
Keadaan ini sempat membuat dia down tetapi masih bersyukur karena masih
dapat terselamatkan dari kebutaan, meski dia harus memakai kaca mata
untuk sementara waktu sampai penglihatnnya pulih kembali, terutama
disaat mengendarai mobil .
Untuk mengontrol kadar gula darahnya, dia
harus di suntik dengan insulin empat kali sehari, hal ini membuat suami
ku menderita karena dia memiliki needle phobia, namun sekali lagi dia berusaha
untuk melawan itu dengan sekuat tenaganya, karena semua itu demi kesehatan
dirinya meski sambil mengaduh - aduh dan menahan sakit sehingga mengakibatkan banyak memar biru membekas
di perut atau bagian pahanya, tetapi tetap saja setiap hari dia tidak pernah
melewatkan untuk suntik insulin.
Bersambung ke...9...
No comments:
Post a Comment