Translate

Saturday, 8 February 2014

GELOMBANG ITU TAK PERNAH BERAKHIR ( Bagian ke 8 )

Bagian ke..8

Dalam masa training tiga bulan ini kami di kejutkan dengan meninggalnya salah seorang teman yang hanya berbeda satu hari mendapat donor ginjal dari suami ku , karena jahitan operasinya yang tidak kunjung mengering dan kekebalan tubuhnya yang menurun sehingga dia terkena infeksi paru - paru. Hal ini sempat membuat shock suami ku dan teman - teman yang lainnya. 

Bersama berjalannya waktu suami ku mulai menampakkan perubahan - perubahan terutama dalam hal makanan, dia yang dulunya orang indonesia sekali, kalau belum makan nasi artinya belum makan saat itu tidak suka nasi sama sekali, dia lebih suka makanan western, seperti pasta, sandwich, stew yang mengandung cream atau cheese. Aneh juga melihat perubahan ini, dan aku sempat di warnai pertanyaan bagaimana organ yang kecil itu dapat merubah selera makan dan sifat seseorang. Hal ini aku bawa dalam diskusi dengan para pasangan yang istri atau suaminya  mendapat donor ginjal, ternyata mereka juga mengalami hal yang sama. 

Ada yang tadinya tidak suka jeruk sekarang suka sekali minum juice jeruk, ada yang tidak pernah minum beer tiba - tiba minta beer dan lainnya. karena belum begitu memahami sekali makanan apa yang dapat di terima oleh tubuh suami ku , maka sempat beberapa kali dia masuk rumah sakit yang mengakibatkan dia harus di infus dan di suntik pain killer untuk meghilangkan rasa sakit di lambungnya. Sebelum mendapat donor suami ku tidak pernah mempunyai masalah bila memakan tomat, buah ataupun makanan yang sedikit mengandung rasa asam seperti salad, namun saat ini tubuh suami ku tidak dapat menerima makanan itu. Maka saya berhati - hati sekali membuatkan makanan untuk nya. 

 Dua setengah tahun berlalu, ginjal suami ku bekerja dengan baik, dia sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan delivery spare parts mobil, atas rekomendasi seorang teman di gereja. Dia sangat senang sekali, setelah beberapa tahun tidak bekerja dan dapat bekerja lagi sehingga dia dapat merasakan fungsinya kembali sebagai seorang kepala rumah tangga. Beberapa bulan bekerja dia mengalami kecelakaan jatuh dari truck ketika sedang menaikkan barang, yang mengakibatkan tulang belakangnya bergeser dan menjepit syaraf, sehingga susah untuk berjalan. Dokter mengatakan tidak ada yang dapat mereka lakukan karena operasi hanya akan membawa resiko bagi nya . Yang dapat di lakukan hanya physiotherapy dan acupuncture. Usaha pengobatan ini pun memakan waktu berbulan - bulan,  namun suami ku tetap semangat bekerja meskipun harus menjalaninya dalam keadaan sakit dengan terseok - seok saat berjalan serta ringisan di wajah bila terasa sakit yang tak tertahankan. 

Hampir enam bulan baru keadaan suami menampakkan kemajuan, sakitnya mulai berkurang dan akhirnya dia dapat berjalan dan melakukan aktivitas dengan normal kembali tanpa rasa sakit. Namun sekali lagi kebahagian ini tidak berlangsung lama, kesehatannya mulai di warnai adanya keluhan pada penglihatannya, yang semakin hari semakin memudar, aku sudah menyarankan untuk menemui dokter, tetap dia katakan tidak apa - apa. Sampai pada satu hari ketika sedang bekerja dia sudah tidak dapat lagi melihat nomer kendaraan yang ada di depannya. Takut terjadi sesuatu dia lansung menghubungi dokter setelah di lakukan pemeriksaan, dokter katakan Kamu harus ke rumah sakit sekarang juga karena saat itu kadar gula darahnya sangat tinggi 50 , yang seharusnya untuk ukuran normal 4-6, suami tidak boleh menyetir lagi dan mereka akan membawa dia dengan ambulance ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit suami ku langsung di beri asupan insulin melalui selang,  karena tubuhnya sudah tidak dapat menghasilkan insulin sendiri, suami ku terkena DIABETIC, kencing manis, ini adalah effect samping dari obat anti penolakan ginjal yang harus di konsumsinya. Keadaan ini sempat membuat dia down tetapi masih bersyukur karena masih dapat terselamatkan dari kebutaan, meski dia harus memakai kaca mata untuk sementara waktu sampai penglihatnnya pulih kembali, terutama disaat mengendarai mobil . 

Untuk mengontrol kadar gula darahnya, dia harus di suntik dengan insulin empat kali sehari, hal ini membuat suami ku menderita karena dia memiliki needle phobia, namun sekali lagi dia berusaha untuk melawan itu dengan sekuat tenaganya, karena semua itu demi kesehatan dirinya meski sambil mengaduh - aduh  dan menahan sakit sehingga mengakibatkan  banyak memar biru membekas di perut atau bagian pahanya, tetapi tetap saja setiap hari dia tidak pernah melewatkan untuk suntik insulin. 

Bersambung ke...9...

No comments:

Post a Comment