Perjalanan salib menuju Negeri diatas angin.
WAE REBO, Mungkin sudah ada yang pernah mendengar ataupun mengunjungi tempat ini, Wae Rebo juga di kenal dengan julukan Negeri di atas angin terletak 1.100 meter di atas permukaan laut.
Di katakan demikian karena desa terpencil yang masih terisolir ini berada di balik bukit, akan terlihat begitu indah ketika kabut turun menutupi. Untuk mencapai ke desa ini memerlukan waktu, tenaga serta pengorbanan yang tidak sedikit. Rencananya kami akan menginap di desa ini tetapi hari itu sudah terlalu larut bagi kami untuk mendaki, karena sebelumnya kami harus berhenti di jalan selama kurang lebih satu setengah jam, di karenakan ada perbaikan.
Sekitar jam sepuluh malam kami baru tiba di paroki Denge, Denge adalah desa di pesisir pantai yang merupakan desa terakhir yang dapat disinggahi sebelum mendaki menuju desa Wae Rebo.
Malam itu kami bermalam disana, saya bersama Suster Rosmeri Sitinjak dari SLB Karya Murni, Romo Charly Krowa dari Seminari Labuan Bajo dan Oom Yos supir dari Keuskupan.
Sebelum menuju ke Paroki Romo dan Suster sudah berusaha untuk menghubungi Romo Gusti selaku Romo Paroki di sana untuk memberitahukan bahwa kami akan datang dan menginap, tetapi karena tidak ada signal maka kami tidak dapat memberi kabar. Akhirnya kami tiba di sana, kebetulan mereka masih belum tidur karena sedang ada pertemuan bulanan, yang di hadiri oleh para Romo dari paroki - paroki lainnya yang kebetulan juga menginap di sana.
Kami mendapat jamuan makan malam, sementara Romo mempersiapkan tempat bagi saya dan Suster untuk beristirahat di bantu oleh dua suster lain. Setelah mandi dan makan malam lalu kami segera ijin untuk beristirahat karena esok hari harus melanjutkan perjalanan ke Wae Rebo.
Pukul 5 pagi kami bangun, setelah sarapan kami diantar oleh Romo Gusti kerumah salah seorang penduduk desa Denge yang akan mengantarkan kami menuju desa Wae Rebo. Pak Tagor warga Denge bersedia mengantarkan kami ke desa Wae Rebo, jalan pertama yang kami lalui masih cukup lebar meskipun berbatu - batu, kemudian Pak Tagor membawa kami melalui jalan pintas, yaitu jalan setapak melintasi hutan.
Udara saat itu panas sekali peluh membasahi sekujur tubuh jalan terus mendaki, kami mulai kelelahan kaki terasa lemas bagian betis terasa keras, Suster pun mengeluh daerah sekitar paha terasa sakit begitu pula dengan Romo yang merasakan sakit pada bagian pinggang. Beberapa kali kami hampir jatuh beruntung sekali ada tongkat hiking yang di pinjamkan oleh seorang teman Australi saya, sehingga dapat
di pergunakan sebagai penahan ketika kami akan terjatuh.
Saat mendaki Wae Rebo kami teringat akan perjalanan salib Tuhan Yesus, Penderitaan Tuhan Yesus pada saat itu pastinya melebihi apa yang sedang kami jalani saat itu. Kami berjalan tanpa luka di tubuh, tanpa salib di bahu tidaklah pantas bagi kami untuk mengeluh, oleh sebab itu Romo mengajak kami untuk bernyanyi dan kamipun saling menguatkan dengan berbagi cerita serta renungan. Setelah melewati kali dan jembatan dari bambu kami berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan sambil menyantap roti dan mengambil beberapa photo di sekitar ngarai.
Perjalanan kami masih panjang ada petunjuk yang tertancap menunjukkan angka 4.5 km lagi menuju desa Wae Rebo, emmpat setengah kilometer untuk saya di jalan biasa tidak menjadi masalah dengan berlari dalam waktu 20 menit dapat terselesaikan. Tetapi perjalanan 4.5 km menuju desa Wae Rebo adalah perjalanan mendaki, licin dan berbatu - batu, dengan tetap saling menyemangati kami terus berjalan, memakan waktu sekitar 4 jam akhirnya kami sampai di pendopo atau pos pemantau.

No comments:
Post a Comment