Translate

Saturday, 12 December 2015

MENILIK WAE REBO NEGERI DI ATAS ANGIN.(2)

Budaya dan tradisi yang masih di pertahankan.

Segala rasa penat, sakit kelelahan hilang seketika saat kami melihat Negeri diatas Angin itu. Pak Tagor penuntun jalan kami lalu membunyikan kentongan bambu sebagai tanda bahwa ada tamu hingga penduduk dapat bersiap diri menyambut dan mempersiapkan jamuan. Dari post jaga itu kami sudah dapat melihat rumah - rumah penduduk desa wae Rebo, rumah beratap ijuk itu di sebut Mbaru Niang yang seluruhnya hanya 7 buah bangunan rumah saja.
Rumah yang memiliki bentuk seperti kerucut dengan tinggi sekitar 15 meter dan terbuat dari daun lontar atau rumbia. Mbaru Niang atau rumah adat ini dibangun dengan memiliki 5 lantai. Lantai pertama di beri nama Lutur, merupakan tempat tinggal yang punya rumah. Tempat ke-dua diberi nama Lobo, merupakan tempat menyimpan bahan makanan dan barang. Tempat ketiga dinamakan Lentar, merupakan tempat menyimpan benih jagung dan bibit tanaman. Tempat ke-empat dinamakan Lempa Rae, tempat menyimpan stock cadangan makanan dikala panen gagal karena kendala cuaca. Tempat ke-lima dinamakan Hekang kode, merupakan tempat menyimpan sesajian bagi para leluhur. Rumah utama terdiri dari satu ruang tengah yang besar dan di sisi - sisinya ada delapan ruangan yang masing - masing di huni oleh satu keluarga jadi dalam rumah itu ada delapan keluarga.

Setiba di pelataran desa kami tidak boleh mengambil photo sebelum bertemu dulu dengan kepala adat, sebagai tradisi untuk memohon ijin dan penghormatan kepada para leluhur yang telah meninggal.
Kepala adat tinggal di rumah utama yang di pucuk rumahnya memakai lambang tanduk kerbau, mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari Minang Kabau karena tanduk kerbau yang masih di pakai sebagai lambang rumah utama. Mereka sendiri tidak tahu sejak kapan mereka telah berada disana tetapi dari silsilah keturunan mereka yang masih tinggal saat ini adalah keturunan yang ke 18.

Di desa Wae Rebo ini hanya memiliki satu klan (marga) saja berbeda dengan dusun tradisional lainnya yang memiliki lebih dari satu klan (marga). Ada yang unik dari warga masyarakat dusun Wae Rebo ini, yaitu mereka dilarang memakan satu binatang yang sangat dikeramatkan, yaitu musang. Menurut tetua adat masyarakat Wae Rebo, Musang termasuk hewan yang berteman dengan leluhur mereka saat pertama kali datang ke Wae Rebo. Oleh karena itu mereka mempercayai bahwa Musang adalah bagian dari leluhur mereka.

Jumlah seluruh warga dalam desa itu ada 800 orang terdiri dari orang tua, muda dan anak - anak, tetapi tidak semua dari mereka saat ini tinggal di sana ada juga yang sudah pergi merantau dan bersekolah di tempat lain. Penduduk di sana sangat ramah dan menghargai para tamu yang datang berkunjung kesana.

Saat bertemu dengan ketua adat pak Tagor menyampaikan pemberian kami sebagai syarat yang telah di tentukan yaitu sebesar dua puluh ribu rupiah, adalah tanda memohon ijin berkunjung dan meminta perlindungan kepada para leluhur yang telah meninggal dan menjaga tempat itu. Tetua adat Wae Rebo kemudian akan melakukan briefing kecil tentang beberapa hal yang tabu dilakukan selama para tamu berada di Wae Rebo. Beberapa hal tersebut antara lain adalah memakai pakaian sopan, artinya untuk para wanita tidak diperkenankan memakai tank top atau hot pants, selain karena udara dingin, hal ini akan membuat warga masyarakat menjadi risih. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah tidak menunjukkan kemesraan, baik itu dengan lawan jenis maupun sejenis, seperti berpegangan tangan, berpelukan atau berciuman, bahkan untuk yang sudah berstatus suami istri. Hal lain yang perlu dihindari adalah mengumpat atau memaki selama berada di kampung ini. Pengunjung juga diharuskan melepaskan alas kaki ketika masuk ke dalam rumah. Setelah selesai briefing barulah kami dapat menyerahkan bawaan kami yang lain berupa buku, alat tulis juga Rosario, karena masyarakat disana semuanya beragama Katholik dan mereka sangat senang menerima Rosario.


No comments:

Post a Comment