Pendapatan dan biaya Admistrasi.
Setelah acara serah terima selesai kamipun diantar ke rumah tamu, bangunan ini serupa bentuk dengan rumah utama hanya di pucuknya tidak memakai tanduk kerbau. Dirumah ini kami mendapatkan sajian teh atau kopi yang adalah hasil kebun mereka sendiri, di situ juga di sediakan tempat beristirahat berupa tikar yang di jajarkan dengan bantal yang juga terbuat dari bahan tikar. Sementara kami menikmati kopi sambil melepas lelah beberapa orang ibu sibuk di dapur mempersiapkan makanan bagi kami, dapur mereka terpisah dari bangunan induk letaknya di belakang di dalam bangunan yang lebih kecil. Tiga orang ibu sedang memasak di sana, masing - masing memiliki tugas yang berbeda, yang satu membuat sayur, yang seorang menggoreng kerupuk singkong dan yang lainnya memasak nasi, semuanya di lakukan secara tradisional dengan memakai tungku batu dan kayu api.
Saya sempat bertanya apa makanan utama di sini?, mereka katakan sayur penduduk desa wae Rebo jarang sekali makan daging sekalipun mereka mempunyai ternak ayam dan babi. Mereka memasak daging hanya bila ada tamu saja. Setelah mengambil beberapa photo sambil menunggu makanan selesai di masak saya menyempatkan diri untuk berbincang - bincang dengan salah seorang tamu dari Belanda bernama Rob yang kebetulan kami sudah sempat bertemu sehari sebelum tiba di Wae Rebo saat kendaraan kami harus berhenti karena perbaikan jalan.
Dia katakan mulanya tidak percaya bahwa untuk mencapai Wae Rebo memerlukan waktu yang lama. Dia menggambarkan jarak dari Labuan bajo ke desa Denge hanya sejengkal saja tetapi memakan waktu enam jam, dan dari desa Denge ke Wae Rebo tiga jam berjalan kaki menurut temannya. Tetapi akhirnya saya percaya katanya, malah untuk mencapai Wae Rebo dia dan anaknya memerlukan waktu tiga jam empat puluh lima menit.
Tak lama menunggu akhirnya masakan selesai dan siap untuk kami santap, makanan yang tersaji sangatlah sederhana, ada sayur bening dari daun singkong dan pepaya muda, telur dadar, sambal dan kerupuk singkong, sekalipun sederhana terasa sangatlah nikmat terlebih udara mulai dingin saat itu.
Untuk makan siang dan kopi yang di suguhkan setiap orang di kenakan bayaran sebesar dua ratus ribu rupiah, dan bila menginap akan di kenakan biaya sebesar tiga ratus lima puluh ribu rupiah. Ada kesan komersil di sana padahal sesungguhnya uang administrasi di Wae Rebo ini sudah diatur menurut kearifan lokal setempat. Pengelolaan uang ini dipercayakan kepada Lembaga Pariwisata Wae Rebo. Uang administrasi yang didapat dari wisatawan digunakan untuk keperluan biaya bahan makanan dan memasak makanan yang dibuat oleh para ibu, pemeliharaan infrastruktur kampung, bahan bakar generator set dan sumber air.
Penduduk Wae Rebo sendiri bukannya tanpa usaha selain mendapat tambahan dari wisatawan yang berkunjung. Kopi dan kain cura adalah salah satu usaha yang menjadi penghasilan utama dari penduduk kampung Wae Rebo. Kopi yang dijadikan komoditi adalah jenis arabika. Sedangkan kain cura menjadi kerajinan kain tenun yang dilakukan oleh ibu-ibu di Wae Rebo. Kain cura ini memiliki motif khas berwarna cerah. Untuk pejalan yang memang tertarik untuk mengoleksi kain tenun dari beberapa daerah di Indonesia, kain cura ini bisa menjadi pilihan tersendiri.

No comments:
Post a Comment