Translate

Saturday, 12 December 2015

MENILIK WAE REBO NEGERI DI ATAS ANGIN.(2)

Budaya dan tradisi yang masih di pertahankan.

Segala rasa penat, sakit kelelahan hilang seketika saat kami melihat Negeri diatas Angin itu. Pak Tagor penuntun jalan kami lalu membunyikan kentongan bambu sebagai tanda bahwa ada tamu hingga penduduk dapat bersiap diri menyambut dan mempersiapkan jamuan. Dari post jaga itu kami sudah dapat melihat rumah - rumah penduduk desa wae Rebo, rumah beratap ijuk itu di sebut Mbaru Niang yang seluruhnya hanya 7 buah bangunan rumah saja.
Rumah yang memiliki bentuk seperti kerucut dengan tinggi sekitar 15 meter dan terbuat dari daun lontar atau rumbia. Mbaru Niang atau rumah adat ini dibangun dengan memiliki 5 lantai. Lantai pertama di beri nama Lutur, merupakan tempat tinggal yang punya rumah. Tempat ke-dua diberi nama Lobo, merupakan tempat menyimpan bahan makanan dan barang. Tempat ketiga dinamakan Lentar, merupakan tempat menyimpan benih jagung dan bibit tanaman. Tempat ke-empat dinamakan Lempa Rae, tempat menyimpan stock cadangan makanan dikala panen gagal karena kendala cuaca. Tempat ke-lima dinamakan Hekang kode, merupakan tempat menyimpan sesajian bagi para leluhur. Rumah utama terdiri dari satu ruang tengah yang besar dan di sisi - sisinya ada delapan ruangan yang masing - masing di huni oleh satu keluarga jadi dalam rumah itu ada delapan keluarga.

Setiba di pelataran desa kami tidak boleh mengambil photo sebelum bertemu dulu dengan kepala adat, sebagai tradisi untuk memohon ijin dan penghormatan kepada para leluhur yang telah meninggal.
Kepala adat tinggal di rumah utama yang di pucuk rumahnya memakai lambang tanduk kerbau, mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari Minang Kabau karena tanduk kerbau yang masih di pakai sebagai lambang rumah utama. Mereka sendiri tidak tahu sejak kapan mereka telah berada disana tetapi dari silsilah keturunan mereka yang masih tinggal saat ini adalah keturunan yang ke 18.

Di desa Wae Rebo ini hanya memiliki satu klan (marga) saja berbeda dengan dusun tradisional lainnya yang memiliki lebih dari satu klan (marga). Ada yang unik dari warga masyarakat dusun Wae Rebo ini, yaitu mereka dilarang memakan satu binatang yang sangat dikeramatkan, yaitu musang. Menurut tetua adat masyarakat Wae Rebo, Musang termasuk hewan yang berteman dengan leluhur mereka saat pertama kali datang ke Wae Rebo. Oleh karena itu mereka mempercayai bahwa Musang adalah bagian dari leluhur mereka.

Jumlah seluruh warga dalam desa itu ada 800 orang terdiri dari orang tua, muda dan anak - anak, tetapi tidak semua dari mereka saat ini tinggal di sana ada juga yang sudah pergi merantau dan bersekolah di tempat lain. Penduduk di sana sangat ramah dan menghargai para tamu yang datang berkunjung kesana.

Saat bertemu dengan ketua adat pak Tagor menyampaikan pemberian kami sebagai syarat yang telah di tentukan yaitu sebesar dua puluh ribu rupiah, adalah tanda memohon ijin berkunjung dan meminta perlindungan kepada para leluhur yang telah meninggal dan menjaga tempat itu. Tetua adat Wae Rebo kemudian akan melakukan briefing kecil tentang beberapa hal yang tabu dilakukan selama para tamu berada di Wae Rebo. Beberapa hal tersebut antara lain adalah memakai pakaian sopan, artinya untuk para wanita tidak diperkenankan memakai tank top atau hot pants, selain karena udara dingin, hal ini akan membuat warga masyarakat menjadi risih. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah tidak menunjukkan kemesraan, baik itu dengan lawan jenis maupun sejenis, seperti berpegangan tangan, berpelukan atau berciuman, bahkan untuk yang sudah berstatus suami istri. Hal lain yang perlu dihindari adalah mengumpat atau memaki selama berada di kampung ini. Pengunjung juga diharuskan melepaskan alas kaki ketika masuk ke dalam rumah. Setelah selesai briefing barulah kami dapat menyerahkan bawaan kami yang lain berupa buku, alat tulis juga Rosario, karena masyarakat disana semuanya beragama Katholik dan mereka sangat senang menerima Rosario.


MENILIK WAE REBO NEGERI DI ATAS ANGIN.(1)

Perjalanan salib menuju Negeri diatas angin.

WAE REBO, Mungkin sudah ada yang pernah mendengar ataupun mengunjungi tempat ini, Wae Rebo juga di kenal dengan julukan Negeri di atas angin terletak 1.100 meter di atas permukaan laut.
Di katakan demikian karena desa terpencil yang masih terisolir ini berada di balik bukit, akan terlihat begitu indah ketika kabut turun menutupi. Untuk mencapai ke desa ini memerlukan waktu, tenaga serta pengorbanan yang tidak sedikit. Rencananya kami akan menginap di desa ini tetapi hari itu sudah terlalu larut bagi kami untuk mendaki, karena sebelumnya kami harus berhenti di jalan selama kurang lebih satu setengah jam, di karenakan ada perbaikan.

Sekitar jam sepuluh malam kami baru tiba di paroki Denge, Denge adalah desa di pesisir pantai yang merupakan desa terakhir yang dapat disinggahi sebelum mendaki menuju desa Wae Rebo.
Malam itu kami bermalam disana, saya bersama Suster Rosmeri Sitinjak dari SLB Karya Murni, Romo Charly Krowa dari Seminari Labuan Bajo dan Oom Yos supir dari Keuskupan.
Sebelum menuju ke Paroki Romo dan Suster sudah berusaha untuk menghubungi Romo Gusti selaku Romo Paroki di sana untuk memberitahukan bahwa kami akan datang dan menginap, tetapi karena tidak ada signal maka kami tidak dapat memberi kabar. Akhirnya kami tiba di sana, kebetulan mereka masih belum tidur karena sedang ada pertemuan bulanan, yang di hadiri oleh para Romo dari paroki - paroki lainnya yang kebetulan juga menginap di sana.

Kami mendapat jamuan makan malam, sementara Romo mempersiapkan tempat bagi saya dan Suster untuk beristirahat di bantu oleh dua suster lain. Setelah mandi dan makan malam lalu kami segera ijin untuk beristirahat karena esok hari harus melanjutkan perjalanan ke Wae Rebo.
Pukul 5 pagi kami bangun, setelah sarapan kami diantar oleh Romo Gusti kerumah salah seorang penduduk desa Denge yang akan mengantarkan kami menuju desa Wae Rebo. Pak Tagor warga Denge bersedia mengantarkan kami ke desa Wae Rebo, jalan pertama yang kami lalui masih cukup lebar meskipun berbatu - batu, kemudian Pak Tagor membawa kami melalui jalan pintas, yaitu jalan setapak melintasi hutan.

Udara saat itu panas sekali peluh membasahi sekujur tubuh jalan terus mendaki, kami mulai kelelahan kaki terasa lemas bagian betis terasa keras, Suster pun mengeluh daerah sekitar paha terasa sakit begitu pula dengan Romo yang merasakan sakit pada bagian pinggang. Beberapa kali kami hampir jatuh beruntung sekali ada tongkat hiking yang di pinjamkan oleh seorang teman Australi saya, sehingga dapat
di pergunakan sebagai penahan ketika kami akan terjatuh.

Saat mendaki Wae Rebo kami teringat akan perjalanan salib Tuhan Yesus, Penderitaan Tuhan Yesus pada saat itu pastinya melebihi apa yang sedang kami jalani saat itu. Kami berjalan tanpa luka di tubuh, tanpa salib di bahu tidaklah pantas bagi kami untuk mengeluh, oleh sebab itu Romo mengajak kami untuk bernyanyi dan kamipun saling menguatkan dengan berbagi cerita serta renungan. Setelah melewati kali dan jembatan dari bambu kami berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan sambil menyantap roti dan mengambil beberapa photo di sekitar ngarai.

Perjalanan kami masih panjang ada petunjuk yang tertancap menunjukkan angka 4.5 km lagi menuju desa Wae Rebo, emmpat setengah kilometer untuk saya di jalan biasa tidak menjadi masalah dengan berlari dalam waktu 20 menit dapat terselesaikan. Tetapi perjalanan 4.5 km menuju desa Wae Rebo adalah perjalanan mendaki, licin dan berbatu - batu, dengan tetap saling menyemangati kami terus berjalan, memakan waktu sekitar 4 jam akhirnya kami sampai di pendopo atau pos pemantau.

Wednesday, 9 December 2015

DARI DUNIA MAYA BERJUMPA DI FLORES. ( Catatan perjalanan ku di Flores 3 )


Sudah sekitar tiga tahun kami dari group Berbagi kasih Tuhan kepada sesama di Face book yang berdomisili di Brisbane Australia, selalu mengadakan penggalangan dana bagi saudara - i di Flores khususnya ruteng, dengan menjual makanan. Hasil yang kami peroleh di sumbangkan bagi masyarakat miskin, ketika Ruteng mengalami banjir, juga kepada anak - anak SLB Karya Murni, bagi pembangunan pastoran Santo Agustinus Weleng, Panti rehabilitasi Kusta di Cancar, dan Panti rehabilitasi Santu Damian di Binongko, serta mengembangkan ternak babi bagi para janda di desa Kole.

Selama tiga tahun itu saya secara pribadi belum pernah bertemu muka dengan para Romo dan Suster di sana, kami hanya saling mengenal lewat face book saja.
Ada kerinduan saya untuk bertemu dengan mereka dan masyarakat di sana, kebetulan juga sudah beberapa kali Romo dan Suster bertanya kepada saya kapan akan datang berkunjung. Hampir setahun saya merencanakan perjalanan saya ke Flores dan kedatangan saya rencananya di cocokkan dengan masa panen padi anak - anak SLB Karya Murni.

Dua minggu sebelum berangkat saya menghubungi Suster Rosmeri dari SLB Karya Murni, untuk menanyakan apakah panen padi dapat di lakukan saat saya datang karena saya ingin
ikut panen bersama anak - anak SLB. Suster katakan kepada saya, maaf ibu kita gagal panen karena selama beberapa bulan ini tidak ada hujan tanah sangat kering.
Ada rasa kecewa saat itu, tetapi ya sudahlah bila tidak mungkin karena alam tidak mendukung mau bagaimana, lalu saya katakan kepada Suster bahwa saya ingin melakukan aktivitas di kebun mereka seperti ikut membersihkan dan lainnya, oh boleh Ibu suster katakan bahkan Suster mengajak saya untuk menginap di kebun bila mau, langsung saya katakan ok.

Rencanananya saya berangkat ke Labuan Bajo itu tanggal 6 November, tetapi Romo Beny meminta saya untuk datang lebih cepat karena warga desa telah menunggu untuk saya menyerahkan anak babi bagi mereka, oleh sebab itu saya mempercepat keberangkatan saya menjadi tanggal 4. Namun karena adanya gunung Rinjani yang meletus dan pesawat saya akhirnya di batalkan penerbangannya, maka akhirnya sepertinya memang itu yang di kehendaki oleh Tuhan saya tetap berangkat tanggal 6 sesuai rencana awal dengan route Kupang sebab Bali airport masih di tutup.

Karena tidak ada pesawat langsung dari Kupang ke Labuan bajo, oleh sebab itu saya harus beristirahat kurang lebih 7 jam di rumah Bp. Norbert dan Ibu Yovita, teman dari Romo Beny.
Suster Rosmeri yang sudah berada di Labuan Bajo sejak tanggal 4 November, memberi kabar kepada saya saat perjalanan saya ke Kupang bahwa dia harus segera kembali ke Ruteng karena ada hal mendadak yang harus di selesaikan.
Oleh sebab itu hanya Romo Beny yang akan menjemput saya di airport, ke esokan paginya setelah check in saya mengirimkan pesan kepada Romo bahwa saya akan segera berangkat,  tetapi tidak mendapatkan balasan, begitu pula saat saya tiba di labuan Bajo saya coba menghubungi Romo kembali tetapi tetap tidak mendapatkan balasan, malah Romo Charly yang menghubungi saya dan menanyakan apakah saya sudah sampai?
karena dalam schedule yang menjemput saya adalah Romo Beny maka saya tidak bertanya pada Romo Charly apakah akan menjemput saya, saat itu saya hanya membalas pesannya bahwa saya baru tiba.

Kepada Bapak Porter yang membantu mengangkat koper, saya bertanya apakah ada taksi di sini? dia balik bertanya kepada saya ibu menginap di mana? seharusnya dari hotel ada jemputan,  saya katakan mereka sudah menawarkan kepada saya untuk menjemput, tetapi karena Romo akan menjemput saya katakan tidak perlu, namun sampai saat ini saya belum menerima kabar dari Romo.
Saya katakan kepadanya coba Bapak tolong carikan taksi saja untuk saya, sambil kami berjalan keluar airport.
Saat itu saya melihat di luar ada dua sosok orang yang saya kenal melalui profilenya di Face book yaitu Romo Beny dan Romo Charly, ternyata mereka berdua sudah berada di depan menunggu saya.
Itu kejutan untuk saya. 

Akhirnya setelah tiga tahun berteman di dunia maya kami bertemu juga di darat, kasih Tuhanlah yang mempertemukan kami semua, dalam kesempatan ini pula saya ingin mengucapkan terima kasih atas persahabatan, serta kerjasamanya yang telah terjalin selama ini,
Baik di dunia maya maupun di dunia nyata selama saya berada di Flores. Tuhan memberkati dan menyertai pengabdian serta pelayanan Romo Beny Jaya, Suster Rosmeri Sitinjak serta Romo Charly Crova selalu.

Tuesday, 24 November 2015

CATATAN PERJALANAN KU DI FLORES (2)

Kesabaran dan Niat Tulus ku di uji Tuhan

Tanggal 4 November 2015, sebelum jam 2 dini hari aku telah terjaga, meskipun aku telah meminta pihak hotel untuk wake up call jam 2 pagi.
Mata ku tak dapat terpejam kembali karena kuatir terlambat berangkat ke airport untuk perjalanan ku ke Labuan Bajo ( Flores ), tempat pertama yang akan aku singgahi.

Jam 3 pagi taksi ku tiba dalam perjalanan ke Airport, aku sempat berbincang - bincang dengan Bapak supir taksi, dia bertanya aku mau pergi kemana?
ku katakan tujuan ku ke Labuan Bajo melalui Bali, lalu dia katakan Bu sepertinya lapangan terbang di Bali di tutup karena Gunung Rinjani meletus. Oh ya kata ku, karena tidak sempat mendengarkan berita sebelumnya, tetapi ya sudah kita lihat saja bagaimana nanti kataku, kalau memang tidak bisa berangkat apa mau dikata, karena itupun demi keselamatan.

Aku tiba hampir jam 4 pagi di Airport Soekarno Hatta, setelah Checkin dan membayar kelebihan bagasi aku langsung menuju ruang tunggu, sekitar jam 5 pagi ada pemberitahuan pertama bahwa pesawat Garuda di tunda penerbangannya menjadi jam 6 am, sekitar sepuluh menit kemudian ada pengumuman kedua pesawat di tunda lagi jam 6.30 am. Aku tetap menunggu dengan tenang, terdengar kembali pengumuman yang ketiga pesawat di tunda kembali penerbangannya ke jam 8.30 am.

Kebetulan di seberang ku ada seorang Ibu yang berdomisili di Labuan Bajo dan kami pun sempat berbincang - bincang saat itu, dan ketika jam telah melewati 8.30 am ada pengumuman kembali bahwa penerbangan untuk hari itu di batalkan.
Bersama - sama dengan Ibu itu aku menuju customer service Garuda untuk reschedule penerbangan ku.
Antrian panjang sekali saat itu, dan semua orang bingung, termasuk aku sendiri karena Para Romo dan Suster dari Ruteng telah menunggu ku di Labuan Bajo. Ketika giliran ku tiba aku meminta kepada petugas untuk mereschedule ticket ku untuk keberangkatan pada hari berikutnya, tetapi ternyata esok hari tidak ada penerbangan. Ku coba merubah route melalui jalan lain yaitu kupang tetapi ternyata sudah penuh, akhirnya setelah sekian lama ku putuskan untuk menggambil saja penerbangan tanggal 10, karena hanya itu yang masih tersedia.

Saat itu sempat terpikir oleh ku untuk tidak jadi berangkat ke Flores, karena ternyata kok sulit sekali ya, ah mungkin lebih enak stay saja di Jakarta berkumpul bersama keluarga. Namun segera ku tepis godaan itu, lalu aku menghubungi Romo Benny yang sebelumnya mengurus ticket ku dari Ruteng. Beliau katakan ibu sabar ya saya akan coba mencarikan ticket lain dengan penerbangan lain.
Dalam perjalanan menuju rumah adik ku seorang bapak dari Labuan bajo menghubungi aku, dia adalah orang yang di minta Romo untuk mengurus ticket keberangkatan ku selanjutnya. Puji Tuhan ada penerbangan yang tersedia untuk keesokan hari, yaitu dengan Lion Air meskipun aku harus menunggu sekitar 7 jam di kupang karena keesokan harinya baru ada penerbangan ke Labuan Bajo, aku katakan ok, aku ambil saja. Lega rasanya aku sudah punya ticket baru dan kerinduan ku untuk datang ke Flores tidak sirna.

Sekalipun ticket Garuda ku yang di batalkan bukan karena kesalahan ku tetapi karena kejadian alam dan hanya di kembalikan 25%nya, semua kekecewaan ku akhirnya terbayar lunas dengan suka cita yang penuh.
Akhirnya pada tanggal 6 jam 10 pagi aku dapat sampai di Labuan Bajo, dan sebelumnya sempat singgah di kupang selama 7 jam beristirahat di rumah Bp. Norbert dan Ibu Yovita yang tidak aku kenal sebelumnya.
Terima kasih untuk Romo Benny yang telah mengatur seluruh perjalanan ku, hingga aku pun dapat bertemu dengan keluarga yang baik seperti Bp. Norbert dan Ibu Yovita.

Melalui segala pergumulan dalam perjalanan pelayanan ku ke Flores ini, aku katakan kepada Suster dan Romo bahwa kesabaran dan niat tulus ku benar - benar di uji oleh Tuhan.
Apakah ini yang sungguh aku inginkan? apakah aku melakukan ini hanya untuk kepentingan diri ku, untuk mencari popularitas saja ? atau sungguh untuk melayani sesama bagi kemuliaan nama Tuhan?.
Sekali lagi hanya Tuhan yang tahu jawabannya, hingga akhirnya Dia sungguh mengijinkan aku melakukan perjalanan ku di Flores tanpa mengalami hambatan dan kesulitan lagi.

Apapun yang kita lakukan dengan niat dan hati yang tulus pada akhirnya akan berbuah suka cita.



Monday, 23 November 2015

CATATAN PERJALAN KU DI FLORES (1)


Jam sudah menunjukan pukul 2.20 pagi namun mata ku belum dapat terpejam juga..pikiran ku melayang kepada Merlin, dia seorang anak yang menderita cacat sejak lahir akibat pil KB yang di konsumsi ibunya. Ketika aku datang Merlin sedang tidur, dia berbaring di dalam sebuah tempat tidur bayi. Suster Martina membuka kelambu tempat tidurnya seraya memanggil namanya..Merlin..Merlin..engkau sedang tidur sapa Suster Martina, perlahan dia membuka matanya memandang ke arah Suster Martina dengan gembira, lalu Suster Martina memperkenalkan aku kepada Merlin. Ku sapa dia dengan memanggil namanya seraya memegang tangannya..Meski tak dapat menjawab dia membalas sapaan ku dengan membalas genggaman tangan ku dengan erat..Ada air hangat yang terasa akan meleleh dari sudut mata ku namun ku berusaha untuk menahannya..rasa bahagia dan haru karena Tuhan menyapaku dengan kasih melalui genggaman Merlin.

25 Tahun usia Merlin namun badan dan kepalanya kecil dia seperti seorang bayi, meskipun sosok wajahnya terlihat dewasa. Selama ini Merlin hanya berada di tempat tidur dan hanya dapat mengkonsumsi bubur..Oleh karenanya sampai saat ini Merlin belum menerima komuni pertama.

Suster Martina kepala Suster di Santo Damian Binongko bersama dua Suster lainnya yaitu Suster Novis dan Ani..merawat Merlin dan anak - anak cacat fisik lainnya dengan penuh Cinta kasih serta kesabaran.
Aku sangat terharu akan pelayanan mereka terlebih akan semangat anak - anak cacat. Sejak aku datang tak kulihat ada kesedihan dan duka cita di mata mereka namun justru kegembiraan, suka cita dan semangat yang luar biasa mengalir dari mereka. Sehingga mereka tidak merasa berbeda dengan kami yang memiliki fisik yang normal.
Para Suster dan anak - anak mempunyai semangat cinta yang tulus dan hidup. Keterbukaan hati Para Suster untuk berbagi cinta kepada mereka telah membuahkan suka cita yang tak tertahankan

Terima kasih ku kepada Tuhan yang telah mengijinkan dan memberi ku kesempatan untuk berada bersama mereka meskipun hanya sekejap. Sekalipun hanya sekejap banyak pelajaran hidup yang dapat ku terima dari mereka. Yang utama adalah BERSYUKUR akan hidup yang telah Tuhan berikan apapun keadaan kita, karena hanya dengan bersyukur maka kita dapat merasakan keindahan hidup yang Tuhan telah berikan sekalipun fisik kita tak sempurna, problem hidup datang silih berganti, kemiskinan menemani.
Sempat ku katakan kepada mereka bukan karena aku ada di sana mereka berbahagia, tetapi aku berbahagia karena dapat berada di tengah mereka yang berbahagia. Mereka yang dapat menerima dan mensyukuri hidup.

Semoga melalui tulisan perjalanan pelayanan ku ini banyak hati yang tergerak untuk mau berbagi cinta kasih kepada sesama yang membutuhkan. Kebahagiaan yang ku rasakan sungguh tak dapat ku lukiskan..Puji Syukur ku hanya bagi mu Tuhan..

Tuesday, 27 October 2015

BILA ITU KEHENDAK TUHAN PASTI AKAN TERJADI. ( Kisah perjalanan ku ke tanah suci 1 )

Satu setengah bulan sebelum perjalanan ku ke tanah suci tahun lalu, aku mengalami cedera pada bagian lutut setelah melintasi garis finish  dalam perlombaan lari bagi penderita Cancer. Untuk sementara waktu aku berada di kursi roda karena tidak dapat berjalan sama sekali, melalui pengobatan dan latihan serta doa yang di layangkan oleh semua saudara dan sahabat, aku mulai dapat berdiri dan berjalan sedikit demi sedikit dengan memakai tongkat.

Dalam dua minggu aku sudah mulai dapat berjalan kembali tanpa bantuan tongkat meskipun masih perlahan dan tertatih - tatih, Ibu mertua ku cukup kuatir akan hal ini. Dia yang sebelumnya pernah ke tanah suci mengingatkan aku bahwa perjalanan di sana cukup berat dan berharap keadaan ku dapat segera normal kembali. Puji Tuhan keadaan ku semakin membaik meskipun belum bisa berjalan terlalu jauh tetapi sudah dapat berjalan dengan stabil.

Semalam sebelum hari keberangkatan ku, aku sudah menyiapkan semua obat yang harus aku bawa, tetapi ada obat yang tidak dapat ku masukan kedalam koper terlebih dahulu, karena obat itu harus di simpan di tempat dingin jadi tetap ku tinggal di dalam kulkas, dan baru akan ku masukan esok paginya.
Setelah urusan imigrasi selesai, sedang aku duduk menunggu waktu untuk bording, tiba - tiba aku terhenyak " Oh aku lupa membawa obat yang ada di dalam kulkas itu" Sedangkan obat itu begitu penting bagi ku karena harus di konsumsi setiap hari, sebagai seorang penderita Hypothyroidism bila tidak mengkonsumsi obat tersebut reaksinya badan aku akan lemas, tidak ada tenaga sama sekali seperti mobil tidak ada battery sehingga aku tidak dapat melakukan aktivitas apapun kecuali hanya berbaring saja di tempat tidur.

Dalam keadaan panik aku menghubungi suami ku yang baru saja mengantarkan ku dan sedang menuju tempat kerjanya yang jaraknya cukup jauh dari airport, untuk memintanya kembali sudah tidak mungkin karena pesawat ku sudah tak lama lagi akan berangkat. Aku mencoba mencari solusi lainya dengan menghubungi adik ku di jakarta, sebab aku akan menuju jakarta dahulu sebelum ke tanah suci untuk bergabung dengan rombongan teman - teman disana. Karena perbedaan waktu Brisbane dan Jakarta adalah tiga jam lebih dahulu dan saat itu di Jakarta masih jam 6 pagi, adikku belum bangun sehingga pesan ku padanya untuk di buatkan appoitment dengan dokter disana untuk mendapatkan resep obat yang aku butuhkan tidak terjawab.

Ketika transit di Singapore  dengan tergesa - gesa aku menuju Guardian Pharmacy karena waktu ku disana tidak banyak sedangkan gate untuk penerbangan ke Jakarta masih jauh yaitu di F6 yang paling ujung.
Dengan bermodalkan travel letter dari Dokter aku bertanya kepada Pharmacist apakah mungkin mendapatkan Thyroxine tablet tanpa resep karena obat ku tertinggal di Australi?
Dia mengatakan kepada ku Ibu tidak ada masalah karena ini adalah International Airport kami dapat memberikannya dan obat kami pun tidak perlu di simpan di tempat dingin. Oh, Thank You Lord..saat itu aku hanya dapat bersyukur, anrtian untuk membayar pun cukup panjang, waktu bording sudah dekat sedangkan aku belum ada setengah perjalanan kesana, setelah membayar aku cepat - cepat berlari.
Tanpa memikirkan kaki ku yang baru sembuh dari sakit, mendekati gate F6 aku tidak melihat orang - orang yang sedang menunggu, suasana sepi hanya seorang petugas imgirasi di depan pintu.

Aku tiba di depannya dengan terengah - engah  petugas imigrasi  katakan calm down, aku katakan kepadanya  sorry I'm late, oh no katanya you're not late, you're the frist person, really  tanya ku benar katanya, bukankah seharusnya sudah bording tanya ku, oh tidak masih satu jam lagi katanya...hmmm ternyata aku lupa bila singapore dan jakarta ada perbedaan waktu 1 jam.

Meskipun harus melalui banyak rintangan dari cedera kaki sampai tertinggalnya obat, namun pada akhirnya Tuhan selesaikan semua perkara itu, Dia menjadikan semuanya indah pada waktuNya. Setiap pergumulan yang ada pada kita pasti akan ada maksud Tuhan di situ, agar kita dapat menjadi pribadi yang lebih sabar, setia untuk tetap bergantung kepadaNya dan berserah sepenuhnya pada kehendakNya dan
percaya dengan iman yang teguh, bahwa  bila semua itu adalah kehendak Tuhan apapun rintangan, gelombang yang ada di depan kita maka semuanya itu pasti akan dapat kita lewati, sehingga semua yang mustahil akan di jadikanNya Mungkin.

Semoga melalui sharing ku ini semua sahabat yang sedang mengalami masalah dalam kehidupan tetap sabar, setia, berpasrah dengan iman yang teguh dalam doa pengharapan yang tak henti kepada Tuhan, karena tiada usaha yang baik dan tulus yang tak akan membuahkan hasil pada akhirnya. " PERCAYALAH "


Friday, 24 July 2015

BUAT RENCANA SERTA SERAHKAN KEPADANYA.

Bila kita hendak mengendarai kendaraan, pasti kita mempunyai tujuan kemana kita hendak pergi, dengan demikian kita akan fokus mengarahkan pikiran dan pandangan kita pada tujuan kita itu. Begitu pula didalam kehidupan ini baiknya kita juga membuat rencana kedepan apa tujuan dan harapan untuk hidup kita ini,  agar pandangan, dan pikiran kita menjadi lebih fokus dengan apa yang akan kita lakukan, sehingga,  dengan mudah juga kita akan membawa dan mengarahkan langkah kita, jangan katakan aku pergi kemana langkah ku membawa,  yang berarti kita tidak mempunyai tujuan hidup, tetapi kita yang harus membawa langkah kita, menuju hidup yang kita inginkan.

Tujuan hidup kita ini dapat tercapai bila disertai dengan usaha, kerja keras, serta kemauan diri untuk mewujudkannya,  walaupun, tantangan untuk mencapainya pasti selalu akan ada, dan kemungkinan kita gagal untuk sampai ketujuan itu pun ada,  namun janganlah kita memikirkan dan fokus terhadap segala resiko kegagalan itu terlalu dalam sebelum kita mencobanya,  karena setiap usaha yang kita lakukan dengan sungguh - sungguh pasti juga mempunyai jalan keluar untuk setiap penyelesaian bagi  setiap masalah yang akan datang. Janganlah juga kita menjadi putus asa bila pada akhirnya tujuan dan harapan yang  telah kita usahakan sedemikian rupa itu mendapat kegagalan, karena itu mungkin tidak sesuai dengan rencanaNya.

Maka dalam setiap tujuan dan langkah kita ajaklah Tuhan untuk berjalan bersama kita dan menyerahkan langkah kita untuk di pimpinNya,  agar kita dapat mencapai tujuan dan harapan sesuai yang diinginkanNya. Amin..

Buat RENCANA, FOKUS dalam MELAKUKANNYA, MOHON PIMPINAN TUHAN dan BERSERAH KEPADANYA,  serta JANGAN PUTUS ASA BILA TIDAK TERCAPAI, karena itu mungkin bukan yang Dia inginkan bagi kita,  sebab Dia Maha tau apa yang terbaik bagi kita..Tuhan memberkati.